Sex ala Tao: Jalan Persetubuhan (bagian 1)

Submitted by malam pertama, Kamis, 11:54:06



Ada sesuatu yang tak berujud, namun sempurna
ada sebelum langit dan bumi tercipta
tanpa suara, tanpa isi
tak bergantung, tak berubah
merangkum, tak ada lelah
engkau mungkin menyebutnya ibu
dari semua yang ada di bawah langit
jati dirinya, aku tak tahu pasti
kusebut dia dengan TAO
(dari kitab Tao Teh Cing)

Kitab Tao ditulis sekitar 2500 tahun lalu, yang dihubungkan secara batin dengan guru tua, Lao Tze. Tak heran, jika renungan dalam kitab ini begitu dalam, yang membuatnya menjadi buku paling banyak diterjemahkan di dunia, setelah al-Quran dan Injil.

Tao lebih memusatkan pada ajaran untuk harmonis di muka bumi, fokus pada kesehatan dan usia manusia.

Dalam tao, tak ada istilah takdir. Sesuatu hanya akan berhasil jika, dan hanya jika hanya diusahakan sungguh-sungguh, melalui praktek, memanfaatkan kekuatannya yang tak akan habis. Itulah sebabnya, tao tak mengenal kekuatan doa apalagi mantra.
Pendekatan kehidupan ala tao yang paling esensial terdapat dalam kalimat ching-jing wu-wei, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "duduk diam tanpa aktivitas apa pun"
 

Tidak melakukan sesuatu bukan berarti duduk sepanjang waktu, ibarat seonggok kayu, tapi justru beraktivitas tanpa gerakan. Ini secara mudah dapat dipahami sebagai meditasi: melakukan sesuatu secara spontan tanpa rencanan, tanpa motif, tanpa keinginan untukmenaklukkan, selaras dengan alam, meditasi untuk meditasi.

Namun, yang paling penting dari prinsip wu-wei adalah mengetahui kapan kita harus berhenti mengerjakan sesuatu dan kapan harus menahan diri dari tindakan yang tak perlu. "tatkala usai kerjamu, berhentilah, itulah jalan langit."

Nah, karena itu juga, dalam tao, seks tidak dipahami sebagai sesuatu yang sakral. Tao hanya memasuki seks dan juga memahaminya sebagai apakah "persetubuhan itu sehat atau tidak". Dan karena dalam tradisi Cina seks adalah aktivitas.

Mengerem Penderitaan Usai Orgasme

Perbedaan esensial antara sifat seks pria dan wanita terletak pada watak orgasme. Ketika seorang pria mengalami ejakulasi, ia menyemprotkan sperma, sementara wanita tidak, meski tetap mengeluarkan juga cairan tubuhnya. Dan itulah sebabnya, jika ejakulasi, pria kehilangan energi, sedang ketika wanita orgasme, justru menambah vitalitas.

Nah, kebiasaan ejakulasi inilah perlahan tapi pasti merampas sumber energi pria, membuatnya lemah dan rentan atas penyakit. Sedang wanita, justru kian bugar, baik karena cairannya yang tak keluar, juga percampuran cairannya dengan cairan sang pria, yakni ibarat perpaduan yin dan yang. Dalam tao, perbedaan ini dijelaskan dengan berbagai bahasa, yang mengambil posisi perubahan alam. Untuk orgasme wanita disebut gao-chao, yang secara harfiah diartikan "pasang naik", imaji grafis alam. Sedang untuk lelaki, ejakulasi disebut dengan kehilangan cairan, membuang cairan atau menyerah. Orang cina juga mengatakan bahwa seorang wanita telah "membunuh" pasangannya jika dia membuat pria itu orgasme lebih dahulu daripada dirinya. Ini juga yang disebut sebagai petit mort, kematian kecil, oleh orang Prancis.
 
Karena itulah, tao mengupayakan hubungan seksual perdasarkan prinsip langit dan bumi, mengikuti kaedah yin dan yang. Untuk diketahui, pria adalah milik yang, cepat naik dan cepat turun. Sedang wanita adalah milik yin, perlahan naik, tak pernah bosan dan jenuh. Tao melihat hubungan seks berdasaarkan prinsip keselarasan. Tao mengamati secara detil, bagaimana hewan berkelamin jantan, acap tak punya energi dan mati setelah berhubungan dengan betinanya, seperti serangga, yang bahkan, setelah si jantan mengintimi, akan segera menjadi sejenis "makanan kecil" paska orgasme betinanya.  (besambung ke bagian 2 )



Topik Terkait: